Entri Populer

Jumat, 13 September 2013

Audisi Menulis dan Giveaway "The Nurses"

August 28, 2013 at 11:33pm
Sebuah Antologi
“The Nurses”
25 kisah inspiratif dunia perawat

Hai halo teman fb dan blogger.

Sekian lama mejalin silaturahim virtual dan sering berpartisipasi dalam Giveaway yang teman-teman adakan. Kali ini saya ingin mengadakan sebuah audisi menulis sekaligus Giveaway. Soalnya ada hadiah untuk pemenang audisi menulis ini *wink*
Simak tema dan syarat mengikuti audisi menulis “The Nurses” ini ya :)

Setelah vakum dari dunia keperawatan kurang lebih 3 tahun lamanya. InsyaAllah saya akan kembali bergabung bersama kawan-kawan dunia keperawatan lagi.

Audisi menulis kali ini mengambil tema kisah-kisah inspiratif dunia perawat.

Tuliskan pengalamanmu yang paling menarik positif dan inspiratif sebagai perawat, sebagai dosen perawat atau sebagai mahasiswa perawat. Kamu bukan perawat? Jangan takut, masih bisa ikut kok ;)

Seperti point perawat, tuliskan pengalamanmu yang paling menarik positif dan inspiratif bersama perawat ketika kamu menjadi pasien, ketika menunggu/mengantar sanak saudara yang sakit ke rumah sakit, sebagai tetangga perawat, rekan kerja perawat atau siapapun posisimu asalkan memiliki pengalaman yang berhubungan dengan perawat :)
Jangan sampai ketinggalan deh, soalnya hadiah Giveaway buat pemenang audisi menulis ini cakep-cakep. Sila dicek di sini https://www.facebook.com/knitknotlove/media_set?set=a.369453853185533.1073741832.100003627637003&type=3

Syarat umum tulisan :
  1. Tulisan berupa kisah nyata dari penulis
  2. Tidak mengandung materi SARA, Pornografi, menjelekkan dan memojokkan profesi lain.
  3. Naskah tidak mengandung bahasa 4L4Y. Diketik di kertas A4, huruf Times New Roman 12, spasi 1,5 dan margin 3 cm tiap sisinya. Panjang naskah antara 3 sampai dengan 5 halaman.
  4. Naskah orisinil dan belum pernah dipublikasikan
  5. Berteman dengan akun saya di https://www.facebook.com/knitknotlove, atau follow blog saya di www.diahindri03.wordpress.com.
  6. Sebarluaskan info event ini di note FB atau blog anda. Khusus di note FB, harus men-tag minimal 25 teman dan akun saya.
  7. Kirim naskah ke :  nursesmenulis@yahoo.com. Dengan subjek : TheNurses-Judul Naskah.
  8. Sertakan biodata naratif Anda. Semua berkas dilampirkan di attachment, jangan di badan email.
  9. Kirim notifikasi di wall fb saya atau di page Guestbook saya di wordpress setelah mengirimkan email dan menyebarkan notes (untuk fb) dan memposting ulang untuk blog.


Syarat khusus tulisan bagi rekan perawat, dosen perawat dan mahasiswa perawat :
1. Memiliki 1 fokus utama dasar ilmu keperawatan, silahkan pilih salah satu dari pilihan di bawah ini
  • Keperawatan dewasa
  • Keperawatan anak
  • Komunitas
  • Maternitas/obsgyn
  • Jiwa
  • Lansia
2. Tidak melanggar kode etik keperawatan terutama privacy klien

Naskah diterima paling lambat 31 Oktober 2013.
25 naskah terbaik kamu akan dibukukan loh ;)

Eits jangan lupa masih ada Giveaway buat 7 naskah dengan penilaian tertinggi akan mendapatkan :

Pemenang 1 :
1. Buku My Wedding Story salah satu buku antologi saya.

2. Kain batik.
Sponsored by :
( https://www.facebook.com/farida.z.pane )


3. Pembatas buku Stainless steel-manik.
Sponsored by :
Shafaa Craft-by Samsia ( https://www.facebook.com/shafaa.craft )
 "shafaa craft-preety handmade wire jewelry & stuff"


Pemenang 2 :
1. Buku Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim

2. Kain batik.
Sponsored by :
( https://www.facebook.com/farida.z.pane )

3. Pembatas buku Stainless steel-manik.
Sponsored by :
Shafaa Craft-by Samsia ( https://www.facebook.com/shafaa.craft )
 "shafaa craft-preety handmade wire jewelry & stuff"

Pemenang 3 :
1. Buku Jejak-Jejak Yang terserak.
Sponsored by :
Rifki Jampang-Author ( https://www.facebook.com/rifki.jampang )
Dapatkan potongan harga khusus dengan berkunjung dan meninggalkan komentar di link berikut http://jampang.wordpress.com/mybooks/jejak-jejak-yang-terserak/

2. Kain batik.
Sponsored by :
( https://www.facebook.com/farida.z.pane )

3. Pembatas buku Stainless steel-manik.
Sponsored by :
Shafaa Craft-by Samsia ( https://www.facebook.com/shafaa.craft )
 "shafaa craft-preety handmade wire jewelry & stuff"

Pemenang Harapan 1 :
Buku Jejak-Jejak Yang terserak.
Sponsored by :
Rifki Jampang-Author ( https://www.facebook.com/rifki.jampang )
Dapatkan potongan harga khusus dengan berkunjung dan meninggalkan komentar di link berikut http://jampang.wordpress.com/mybooks/jejak-jejak-yang-terserak/

Pemenang Harapan 2 :
Pulsa sebesar Rp 50.000,-
Sponsored by :
Muli Dbedding Dcutezbaby, ( https://www.facebook.com/dbedding.shop )
Menyediakan berbagai kreasi dari kain katun dan silicon untuk keperluan ibu dan anak
kreasi kami: bedding set and baby bedding set, baby carrier, nursing cover, stroller pad,  dan lain lain

Pemenang Harapan 3 :
Pulsa sebesar Rp, 50, 000,-
Sponsored by :
Muli Dbedding Dcutezbaby, ( https://www.facebook.com/dbedding.shop )
Menyediakan berbagai kreasi dari kain katun dan silicon untuk keperluan ibu dan anak
kreasi kami: bedding set and baby bedding set, baby carrier, nursing cover, stroller pad,  dan lain lain

Pemenang Terisnpiratif :
15 pcs Roti Maryam.
Sponsored by :
"Sekali coba sulit berpaling dari roti Maryam Jameela"
Available also cutes clothes only at Jameela Cantik ( https://www.facebook.com/jameelacantik )


Event audisi menulis sekaligus giveaway yang menarik bukan :) so, buruan susun naskahmu dan kirimkan segera sebelum deadline :)

Salam
DIAH INDRI

sumber: https://www.facebook.com/notes/diah-indri/audisi-menulis-dan-giveaway-the-nurses/369800513150867

Selasa, 10 September 2013

My First Flight, Bali (1)




Flight to Bali. Between WIB and WITa. Day 1. 30 Agustus 2013.

Ini penerbangan pertamaku. Aku pernah memimpikannya, meletakkannya di daftar Dream Book-ku saat lulus SMA. Naik pesawat untuk pergi ke suatu tempat. Mungkin ini hal yang biasa-biasa saja bagi sebagian orang, tapi buatku yang terbiasa perjalanan darat, adalah sesuatu yang spesial. Dan kali ini Allah mengabulkannya. Setelah tarik ulur yang luar biasa membuatku galau. Antara berangkat dan tidak. Untungnya ada seorang teman yang sangat baik hati membantuku booking tiket pesawat. Semoga Allah membalas semua kebaikannya. Aamiin.

Kali ini aku benar-benar merasa katrok. Booking tiket pesawat saja ga bisa. Haha.. yap, this is me. The “Oneng” of me. Dimulai dari masuk ke bandara aja udah ga karuan onengnya. Bingung mau kemana. Akhirnya aku tanya ke temanku tadi, dia menyarankanku untuk ke loket CityLink. Dan ternyata aku sudah tidak perlu kesana lagi. “Langsung check in aja Mbak” kata petugas loket.

Aku masuk mengikuti alur berliku menuju pintu detektor. Lolos. Lalu aku melihat tulisan Gate Counter Check In sesuai bandara tujuan. Lupa di Gate Counter berapa, yang jelas, aku salah lokasi. Pantas saja di Gate Counter itu sepi, ternyata semuanya jadi satu di beberapa Gate Counter saja. Itupun aku bingung. Waktu tanya ke petugas, disarankan untuk langsung ngecek di komputer karena nomor penerbangan dan seatnya sudah lengkap. Akupun mengecek di komputer. Nomor penerbangan dan seat sudah sama. Aku masih bingung juga, untungnya ada petugas yang lagi-lagi menyelamatkanku. Ia menyarankanku ikut ngantri di Gate Counter lagi, untuk cek bagasi. Aku melihat ada tas seseorang yang berguling-guling saat pengecekan, teringatlah aku dengan laptop yang ada di koper. Langsung kuacak-acak koper untuk mengeluarkannya. Jangan ditanya bagaimana rempongnya ya. Hihi.. Karena kelihatan masih bingung, petugas meminta tiketku dan mengeceknya langsung. Sempat terdengar bisikan orang yang tak jauh dariku, "Kok, dia diduluin sih. Kan ngantri belakangan."

Sebelum sempat berucap maaf, petugas tadi langsung buru-buru mengarahkanku menuju tempat pengecekan selanjutnya. "Ke Boarding Pass ya, Mbak. Setelah itu langsung ke C3 ya, Mbak.", dan akupun mengiyakannya.

Berlanjut ke pengecekan selanjutnya. Aku tak tahu kalau ternyata masih dikenakan biaya lagi. Mulailah kerempongan selanjutnya. Uang yang kusiapkan di tas ransel bagian luar masih kurang ternyata, lalu aku mencari-cari dompetku yang ada di bagian dalam tas. Hadeeh.. rempong tiada tara, tangan kanan pegang laptop, tangan kiri pegang koper. lalu petugas menyuruhku minggir agar aku tak menghambat yang lain. Fiiuuhh, ada-ada aja.

Selanjutnya aku mencari gate C3. Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang sedikit takut. Kalau sampai disini nyasar dan masih bingung, entah berapa banyak lagi stok malu yang masih tersimpan. Untungnya tulisan C1, C2 dan C3 nya gedhe-gedhe. Sampai di C3, aku belok kiri dan langsung menuju kursi tunggu. Karena ingat aku belum sholat, aku mencari mushola dan bermaksud menitipkan koperku. Mas-mas petugas menyarankanku menitipkan koperku ke Syahrini. What? Terkejut banget. Dia menunjukkanku pada seorang wanita bersanggul dan berjambul seperti Syahrini, haha.. dan memang benar wajahnya mirip Syahrini. Hanya saja suaranya bukan cetar membahana, tapi tegas menggelegar. Hampir sama ya.. Hehe.. Pokoknya sesuatu banget deh.

SKSD sama HTR

Setelah sholat di mushola mungil, lalu kembali ke ruang tunggu. Dari kejauhan aku melihat sosok yang sepertinya tak asing. Antara percaya dan tak percaya. Aku dekati dengan menggadaikan maluku, barangkali itu orang yang salah. Mengumpulkan segala energi keberanian hanya untuk menyapa, 

“Bunda Helvy bukan?”, aku sok-sok akrab panggil-panggil 'Bunda'.

“Iya.” Beliau tersenyum, hangat.

Aku langsung bersalaman dengannya, dan duduk di kursi sebelahnya. Helvy Tiana Rosa, aku tak akan bercerita betapa besar kiprah beliau di dunia literasi, terlebih lagi untuk FLP. Yang kutahu saat itu, teduh wajah dan tegas suaranya mengingatkanku pada seorang dosen yang kurasa seperti ibuku sendiri. Bu Meidiana Dwi Diyanti. Hmm.. jadi kangen sama Bu Mei…

“Bunda mau ke acara Munas FLP juga?”, tanyaku grogi.

“Iya. Namanya siapa? Mau kesana juga?”

“Eh, iya, saya Selvi, dari FLP Jakarta.”

“Alhamdulillah ya jadi ada temennya.”

“Iya, Bun. Awalnya saya kira saya bakalan sendirian sampai sana.”

Dan percakapan itupun mencair. Disela-sela beliau sibuk dengan tab-nya. Rupanya beliau sedang memantau Munas dari tweeter. Beliau sempat bercerita bahwa dirinya sedang sangat lelah dan harus menggeser beberapa agenda untuk menghadiri Munas 3 FLP sampai usai. Subhanallah ya, orang sesibuk itu yang masih sangat peduli, sebuah dedikasi yang sangat patut diapresiasi dan diteladani. Mendengar kata "lelah" yang senada dengan raut muka beliau saat itu, aku jadi mengurungkan niatku untuk berfoto dengan beliau. Ga tau kenapa jadi grogi banget. Padahal biasanya 'banci kamera' nya ga ketulungan.

Kami di pesawat yang sama. Di seat yang berdekatan. Beliau di seat 6A dan aku di seat 7B. Aku sempat duduk di sebelah beliau untuk beberapa saat. Berbicara beberapa hal. Berharap orang disebelah beliau mau bertukar seat denganku. Tapi rupanya dua seat di sebelah beliau adalah pasangan pria dan wanita. Tanpa aku perlu bertanya, pasti mereka berdua tak akan mau. 

“Nanti ketemu lagi ya.” Kata bunda menggiringku pindah kembali ke seatku.

Duduk diapit Bule Eropa

Aku duduk di seat 7B. Di tengah-tengah dua bule. Yang kiri dekat jendela bule Portugal. Dan yang kanan bule Italia. We-O-We. Bule Eropa!! Bule yang tempat asalnya merupakan tempat yang lama kuimpikan. Hatiku langsung bergetar. Semoga next flight-ku adalah Eropa. Aamiin. Jadi teringat salah satu pesan ibuku sebelum berangkat, 
“Siapa tahu ketemu jodoh disana.” Haha, menghayal lagi. Kalau saja... but, bule... oh tidak tidak tidak, ya ya ya, bisa jadi bisa jadi. Kuis eat bulaga mode: on!. TIDAK!!! kecuali dia muslim. Eh..

Karena ini penerbangan pertamaku, aku ga mau rugi dong. Sebelum berangkat, aku berazam tiga hal (halah, bahasanya..), yang pertama, aku harus duduk di deket jendela. Kedua, meskipun datang hanya sebagai penggembira, harus ada banyak ilmu yang kudapat disana. Ketiga, seperti kata ibuku, disana aku harus bahagia. Dan untuk memperjuangkan azzam pertamaku itu, di kedua kalinya aku memberanikan diri.

“Excuse me, Sir. May I change my seat with you?”, gaya-gayaan pake bahasa inggris pas-pasan.

“Oh, ya.. ya.. I know you couldn’t comfort sit between two men. Ok, we change.” Si bule Portugal ramah banget. Keren deh pokoknya. Cakep pula, kayak bapakku. Hihi.

Akhirnya kami bertukar posisi. Berlanjut pada sedikit ngobrol menanyakan asal negara dan beberapa basa-basi lainnya. Lumayan, latihan conversation dikit. Hehe.. sebenernya bukan karena ga nyaman diapit dua orang laki-laki asing, tapi karena ingin liat awan dari jendela pesawat aje. Hee.. lagian sebenernya keren juga kan, naik pesawat diapit dua orang bule eropa, berasa princess dengan dua bodyguard-nya dah. Hahay...

Pesawat mulai meninggi, perlahan. Dan awan-awan mulai menari dan memamerkan kegemulaiannya. Entah berada di ketinggian berapa ribu kilometer dari permukaan tanah. Yang jelas, kini aku terbang. Di bawah, samping kanan, kiri dan atas, semuanya awan. Subhanallah.. terimakasih atas nikmat hari ini.

Aku Percaya

Sekarang aku percaya bahwa awan memang seperti gumpalan kapas. Ia menari mengambang di udara dengan sangat anggun. Dan dibawahnya, bangunan-bangunan nampak kecil seperti rumah-rumah kurcaci di dongeng putri salju. Aku kini juga percaya, bahwa awan juga seperti salju. Putih nan lembutnya berbalut biru yang tak henti menawarkan sendu.  Jujur, aku takut naik pesawat sendiri, apalagi ini pengalaman pertamaku. Hanya do’a yang teriring sepanjang langkahku. Mengemis keselamatan padaMu. Dan memang Engkau tak pernah bohong, sejengkal aku mendekatiMu, sepenggalah Engkau mendekatiku. Ya Allah, aku ingin menangis. Betapa kecilnya aku, pengharapan itu Kau kabulkan hanya dengan permohonan do’a ketakutanku. Ketakutan yang berbuah manis, Kau hadirkan beliau di kesendirianku. Terima kasih Bunda Helvy yang sudah membuatku merasa tenang.

Aku tak pernah menyangka akan ada skenario ini dalam hidupku. Hidup ini memang kuakui penuh dengan kejutan. Ini salah satunya. Aku hanya memimpikan terbang dengan pesawat. Sekali lagi, mungkin ini hanya mimpi remeh temeh bagi sebagian orang. Tapi hari ini Allah menjawabnya sekaligus memberikan bonus, satu pesawat dengan penulis beken Indonesia yang sekaligus perjumpaan pertamaku dengan beliau. Tiba-tiba rasa haru itu muncul. Jika tidak malu, mungkin luapannya sudah berbentuk tetesan air dari mataku. Subhanallah.. dan Alhamdulillah.. hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati.

Senja semakin memendarkan rona jingganya, berbalut putih yang samar. Aku sudah mulai membayangkan sebuah sunset yang pernah di janjikan oleh seseorang, di pantai Kuta. Lagu Lembayung Bali milik Sandra Dewi tiba-tiba mampir di ingatanku. Masih memerhatikan luar jendela, nampak alur air semacam sungai di bawah sana. Pesawatku tiba-tiba bergetar, seperti naik bajaj yang lagi ngelewatin polisi tidur di jalan. Aku kaget. Tapi aku ingat, kata orang, ketika pesawat menabrak awan, akan terasa guncangannya. Hihi, emang “the katrok of me”. Kali ini awannya berbentuk beda. Seperti batu-batu putih kecil yang berjejer memenuhi ruang syarat udara. Ada juga yang seperti deretan barisan tentara putih yang sedang berperang, sempat berkhayal mungkin itu deretan malaikat yang sedang berbaris mengantri giliran laporan catatan amal manusia. Jadi teringat amalku yang secuil-secuil itu. Jadi malu.

Aku melewati awan yang bentuknya seperti pohon-pohon pinus yang berjajar di atas gunung. Keindahan yang sayangnya tak mampu kuabadikan dalam bentuk gambar. Yah, biarlah terekam hanya di memoriku. Agar keindahan itu membuat orang cemburu. Hehe, maaf ya pembaca.Udah males ngeluarin HP buat take picture.

Perjalanan terbang pertamaku, melintasi dua waktu yang berbeda. WIB dan WITa. Terimakasih ya Allah atas segala rahmat hari ini. Terimakasih ibu yang menguatkan langkahku untuk tetap jadi pergi ke Bali.

“Berangkatlah, Vi. Siapa tahu disana kamu menemukan apa yang kau cari. Pulau dewata yang selama ini hanya dalam mimpimu saja. Saatnya kamu menikmati jerih payahmu sendiri. Ada kalanya kamu perlu memikirkan dirimu sendiri. Meskipun dianggap hal sepele, tapi sesuatu yang bisa kamu raih dari upayamu sendiri akan terasa lebih berarti. Jangan mikirin kerja terus. Sesekali lupain urusan di rumah, lupain sejenak Jakarta. Ada saatnya kamu harus bahagia. Disana nanti kamu harus bahagia pokoknya. Karena bahagia dan suksesmu adalah harapanku. Ibu hanya ingin melihat kamu bahagia.”

Telfon terakhir Ibu sebelum pesawat lepas landas. Rasa haru semakin mengaduk-aduk hatiku. Bunda Helvy menatap sekilas padaku. 

"Dari Ibu. Sepertinya khawatir banget sama anak perempuan satu-satunya." ucapku pada beliau.

"Ya, memang begitu, Dek. Seorang Ibu akan semakin khawatir dengan anak gadisnya, apalagi kalau sudah seusiamu.", Bunda Helvy menimpali.

Ah, ibu. Kau selalu tahu apa yang ada dalam hatiku sebelum lisan ini mengadu. Meski kadang aku masih sulit menerka apa maumu. Semoga perjalanan ini membuatku bertemu dengan banyak ilmu. Aku sayang ibu. Aku janji, aku akan menghadiahkan bahagiaku padamu.

***
Di sebuah senja di dalam CityLink, penerbangan QG 852PK-GLH. 19.10 WITa.

Sabtu, 28 Januari 2012

VENTILATOR ISTRIKU

 
Alarm berbunyi dengan kerasnya, BP: 148/99 mmHg, Heart rate 134 x/mnt, RR: 26 x/mnt. Haemodinamiknya meningkat tiba-tiba. Ia gerak-gerakkan tangannya sambil berusaha mengatakan sesuatu. Genggaman tangannya tak mau ia lepaskan dari tanganku, aku tak paham apa yang ia inginkan. SaO2 98 % dan EKG sinus takikardi. Kesadaran Compos Mentis (sadar penuh), akralnyapun juga hangat, bukan gelisah fikirku. Kucoba menawarkan sesuatu, “Ibu mau dipanggilkan suami?”. Ia mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian sang suami masuk setelah kupanggil ia dari ruang tunggu.

“Assalamu’alaykum dek... sudah sholat??” lembut ucapnya selembut ia mengusap kening istrinya. Anggukan lemah dan kedipan mata yang hangat sang istri mengisyaratkan jawaban “sudah” yang dibalas dengan senyuman mesra sang suami sambil mengusap peluh di wajah sang istri.
Tangan sang istri terus menggenggam erat tangan sang suami. Tatapan matanya tertuju penuh ke mata suami seolah ada kunci yang tak bisa dilepaskan. Ia terus berusaha mengatakan sesuatu meski mulutnya tak pernah bisa mengeluarkan suara, hanya gerak mulut yang sulit dimengerti.
“sabar ya dek, kita ikhtiar sama-sama.” Kata sang suami kepada istrinya. “aby terus ada di sini, sayang mau apa?”
Sang istri semakin keras berusaha mengatakan sesuatu meski tetap saja tak ada suara yang keluar. Sambil terus tersenyum sang suami terus saja menatap sang istri mencoba menterjemahkan maksud sang istri.
Aku menatap dari kejauhan, heart rate (detak jantung) nya semakin naik diikuti respiratory rate (pernapasan) nya. Nampaknya sang istri semakin marah karena sang suami belum juga memahami maksudnya. Aku dekati mereka berdua dengan membawa papan kardeks, selembar kertas dan bolpoint.
“Ibu, ada apa, dituliskan saja bisa... mari saya bantu” kataku. Kupegangi papannya dan sang istri mulai menulis dengan tangannya yang lemah. Tulisan yang tidak jelas, namun masih bisa dibaca.
“Mau Pulang ke rumah”.
Lalu sang suami menatap kearahku seolah bertanya “bagaimana?”
“Ibu... ibu boleh pulang, sangat boleh, tapi pernapasan ibu harus kuat dulu. Ibu masih perlu bantuan pernapasan dengan alat, coba ibu rasakan, napasnya terasa berat tidak?” ucapku pada sang istri mencoba memahamkan. Sang istri mengangguk.
“sayang... istri sholihahku, kita pulang kalau napasnya sudah membaik ya..sekarang tenang dulu...banyak do’a...kita ikhtiar sama-sama ya...” Ucap sang suami lembut memancarkan aura kasih sayang yang menggetarkan hati.
“Propolisnya sudah diberikan belum suster.” Tanya sang suami padaku.
“Ini sudah saya siapkan, mau saya berikan.” Jawabku.
“Biar saya saja suster.” Minta sang suami. Dengan pemantauanku, sang suami memberikan propolis sublingual (dibawah lidah) pada sang istri. “Pahit ya, maaf ya sayang, biar membantu mempercepat kesembuhan ya.” Kembali ia usap peluh sang istri sebelum ia pamit untuk keluar. Sang istripun mulai kembali tenang.
Kulihat monitor, haemodinamiknya mulai normal kembali, BP: 118/77 mmHg, RR: 19 x/mnt, kecuali heart rate nya yang masih sedikit takikardi 112 x/mnt, sebagai efek karena ia mendapatkan support dobutamin 5 microgram/kgBB/menit.

Konektor ventilator canule masih terpasang di tracheostomy. Sebelumnya ia terpasang ETT selama 2 minggu. Dan setelah itu ia harus dipasang tracheostomy karena intubasi endotracheal tidak bagus untuk jangka waktu lebih dari 2 minggu. Pressure Support (PS) mode masih dipertahankan dengan FiO2 40% dan pressure +5 terus mensupport pernapasannya yang belum terlalu membaik di hari perawatan ke 28 di ICU. Proses weaning (sapih) ventilator begitu sulit dilakukan karena tidal volume (TV) yang tidak pernah mencapai 400 cc dengan berat badannya 60 kg dengan target TV 8 cc/kgBB. IV line (infus) lima jalur masih terpasang melalui akses CVC (central vein catheter/ kateter vena sentral) di vena subclavia. Salah satu vena sentral yang terletak di bawah tulang clavikula, dekat tulang rusuk pertama.

***

Sebuah adegan yang begitu romantis di tengah kesibukan merawat pasien. Ada sebuah perasaan haru sekaligus kagum yang kurasakan waktu itu. (Hmm...kalau boleh jujur, sedikit iri juga =) ). Sang suami yang penuh kelembutan dan kesabaran mendampingi sang istri yang terbaring tak berdaya dengan ventilator yang terpasang. 

***

Banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dalam perawatan pasien, bio-psiko-sosio-kultural-spiritual adalah bagian integral yang saling mendukung, bahkan sampai aspek ekonomipun perlu menjadi pertimbangan yang tidak jarang menimbulkan problem dilematik. Pelibatan keluarga menjadi salah satu cara dalam implementasi asuhan keperawatan. Support secara biofisik dengan maintenance terapi medik dan alat-alat canggih sekalipun tak selalu mampu mengalahkan sebuah aspek yang abstrak namun turut memberikan pengaruh dalam proses penyembuhan. Aspek tersebut adalah aspek psikologis, seperti yang dilakukan sang suami dalam real adegan diatas contohnya. 

Sebuah pelajaran baru, mungkin ini adalah yang disebut sebagai “jangan mengobati monitor, obati sumbernya, cari penyebabnya.”. yang artinya, ketika mendengar alarm monitor berbunyi sebagai tanda ada ketidaknormalan nilai, maka jangan langsung mengambil tindakan kolaboratif medikasi untuk menormalkan nilai yang tertera di monitor, tetapi terlebih dahulu lihat klinis pasiennya. Teliti penyebabnya, dan intervensilah dengan tepat. Kejelian dan ketelitian perawat diuji disini.



Jumat, 27 Januari 2012

the bloody action wound care


26 mei 2011

20 lembar kassa besar, 10 lembar kassa kecil, 2 flabot NaCl 0,9%, 3 bungkus metronidazole serbuk, 7 lembar ca alginat, 3 ampul adrenalin, 1 buah spuit 5 cc, 1 buah pampers dewasa ukuran XL yang dibagi 2, 1 gulung hipafix, 2 orang perawat dan 1 jam 15 menit. 

Dapatkah kau bayangkan mengapa merawat luka sampai menghabiskan semua hal yang tersebut diatas? Dapatkah kau bayangkan seberapa besar lukanya? Seberapa deras aliran darah yang keluar dari lukanya? Dan..dapatkah kau bayangkan seberapa sedap aromanya?

Ambil bola basket besar, belah dan sisakan 1/3 bagiannya, 2/3 nya adalah ukuran luka itu. Posisi luka di dada kiri melebar keperut dan punggung. Timbul membesar ke permukaan. Ukuran dan posisi yang cukup membuat si Ibu sulit bergerak, hingga diperlukan dua orang untuk membantunya miring. Termasuk posisi yang cukup sulit untuk perawatan lukanya.

Satu persatu plester dibuka, 2 flabot NaCl 0,9% habis untuk mencuci semua bagian luka, dari tepi yang kering dialiri ke bagian yang lebih basah dan kotor, sambil dialiri NaCl dengan lembut dan perlahan satu persatu kassa dilepaskan. Kotor memang, karena ini bukan luka yang didapat di meja operasi, oleh karenanya prinsip bersihlah yang dipakai. Semua warna dasar luka dari hitam, kuning sampai merah ada disana.

Lalu, perangpun dimulai.. diawali dari darah yang mengucur...
Lihatlah aliran infus yang kau loose clamp sebelum di sambungkan ke IV catheter, memancar deras, begitulah aliran darah yang keluar dari pembuluh-pembuluh darah collateral (collateral vasculer_kita sebut saja si collvas) yang membuat luka itu tumbuh dengan suburnya, pembuluh darah buatan sel-sel penyusup yang berhasil mengalihkan sebagian besar nutrisi tubuh untuk menghidupi keluarga besar sel abnormal pembuat malapetaka. Begitu deras pancaran darah yang keluar tak mampu mengalahkan 2 ampul adrenalin yang disemprotkan ke pembuluh darah terbuka itu, collateral vasculer yang benar-benar bandel, tak mau sedikitpun ia konstriksi. 

Jurus kedua dikeluarkan, kali ini si coklat muda Ca alginat yang beraksi dibantu oleh si putih kassa, 7 lembar Ca alginat ditempel tanpa tersisa, ditambah kassa besar 5 lembar, berhasil, untuk beberapa saat, akhirnya ditambah 3 lembar lagi dengan 1 ampul adrenalin disemprotkan diatasnya, berhasil. Tak mau kalah, si collvas di sudut yang lain ikut menampakkan dirinya, ia tunjukkan kelihaiannya memancarkan darah. Hmm, rupanya ia belum kapok, tenang saja.. biarpun tangan kiriku masih nge-dep di sisi kiri, aku masih punya tangan kananku, ku tutup dengan 10 lembar kassa besar dan KO-lah dia. Lumayan untuk beberapa saat. 

Kedua telapak tanganku sudah kurentangkan selebar-lebarnya, masih saja ada pion-pion yang menyusup, pancaran collvas yang lebih kecil merembes disela-sela jariku..hwaa.. kedua tangan partnerku yang juga sedang sibuk membersihkan sisi luka yang lebih kering akhirnya ikut berperang ke sisiku. Keluarlah jurus ke tiga, pampers dewasa ukuran XL yang akhirnya memukul mati aksi penyerangan si collvas dan bala tentaranya. Pampers yang telah dibagi dua itu tertempel rapi menghentikan the bloody action wound care hari ini. 

So..how about the smell? Gimana dengan baunya? Tidak perlu dibayangkan, tariklah napas dalam-dalam tiga kali, dan kau akan merasakan sebuah rasa syukur yang mendalam, ya, rasa syukur, minimal akan membuatmu lebih menyukai bau keringatmu sendiri. Hehe.. Jangan khawatir, kita keluarkan jurus pamungkas, metronidazol serbuk yang ditaburkan di atas luka akan membuat bakteri-bakteri anaerob pembuat bau menjadi terkapar tak berdaya. The last, 2 lembar kassa besar dan 10 lembar kassa kecil menutup sisi lain dari luka yang tidak terlalu basah dan sebagiannya kering. Dressing tanpa jendela oleh si putih berpori hipafix yang akan mempercantik balutannya. Sekarang si Ibu sudah bersih, good looking, dan tanpa bau.. tersenyumlah si Ibu dengan caktiknya.

Ada yang bertanya ga bagaimana 2 orang perawatnya? Hmm..meskipun 1 jam 15 menit cukup membuat badan rasanya hampir teler, tapi ada kepuasan dan kebahagiaan yang membuat 2 orang perawat itu semakin menikmati tugasnya. Mereka semakin mencintai profesinya. *=)

To be continue.....

Kamis, 26 Januari 2012

JEMPOL CINTA


Jkrta, 31 Juli 2011, 01.55 WIB

"Kebahagiaan terbesar seorang wanita tidak hanya berhenti ketika ia dinikahi oleh orang yang mencintainya, kebahagiaan itu akan semakin berlanjut ketika ia mampu melahirkan keturunan dari orang yg menikahinya. Namun, rasanya kini hal itu mustahil bagiku. Bagaimana aku bisa mendapatkannya jika rahimku telah terangkat. Ah.. jauh sebelum hal itupun, masih adakah seorang laki-laki yang mau menikah denganku pada kondisiku yang tak utuh lagi...??"

aku hanya terdiam membaca tulisan yang ia tunjukkan padaku...

"begitu kan sus..."
aku masih terdiam...

tubuhku terasa terguncang hebat, tanganku gemetar, dadaku terasa sesak menahan air mata yang tak boleh tertumpah di hadapannya... ku coba mengalihkan perhatianku sambil kubetulkan posisi canul ventilator, kucoba menenangkan diriku sendiri...sementara ia masih menuliskan sesuatu di bukunya...

ia tunjukkan lagi tulisannya padaku...
"maaf ya sus... =) "

aku sudah mampu menenangkan diriku...kuberikan senyum, kumenatapnya sambil berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk kusampaikan padanya... namun mulut ini masih saja tak sanggup mengeluarkan kata-kata... (andai saja ada mata kuliah konseling di jaman kuliahku dulu..)
aku tulis dibukunya ...dan percakapan kamipun berlanjut di atas kertas terbendel itu..

aku : "Bukankah setiap diri memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing??"
ia : "ya."
aku : "tau tentang aisyah..istri Rosululloh yang tersohor karena kecerdasannya.."
ia : "ya, kenapa sus.."
aku : "Aisyah, ia tak hanya cantik, tapi juga cerdas. Rosululloh sangat mencintainya tak beda dengan cinta beliau terhadap Khodijah, meskipun tak satupun keturunan yang Rosululloh dapatkan dari Aisyah. Padahal Aisyah adalah seorang yang sehat, sangat sehat."
ia : "tapi aku bukan Aisyah sus, aku hanya wanita biasa, tak berani aku menyamakan diriku dengan Aisyah.."
aku : "Lalu, apakah ada seorang laki-laki yang menyamai Rosululloh..??"

ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya...
kamipun tersenyum bersama...

kulanjutkan menulis di bukunya..
aku : “siapa sih yang tidak akan tertarik pada seorang wanita cantik aktivis lulusan ITB dengan predikat cumlaude plus segudang prestasi.. siapa sih yang tidak tertarik pada seorang arsitek cerdas nan anggun yang ketika baru lulus kuliah langsung mendapatkan tawaran proyek dari tiga perusahaan besar dalam waktu yang bersamaan..??”

ia tersenyum lagi...
cantik.
ia : “iya..”
kami terdiam sejenak...

aku : “so..siapa yang sekarang akan semakin melejitkan potensinya untuk meraih cinta sejatinya..??”
ia : “aku..”
aku : "siapa yang sekarang akan semakin semangat melawan mesin ventilator dengan berusaha melatih pernapasannya?"
ia : "aku.."

dua jempol kuacungkan padanya..ia membalasku dengan dua jempolnya..seperti sebuah kode yang tepat..
kami tersenyum bersama...

 ***

Setelah operan sift malam...sambil berpamitan untuk pulang..
Kuberikan tiga jempol untuknya, dua jempol tanganku, dan satu lagi jempol temanku..
Jempol tangan kanannya dilipat, empat jari lainnya terbuka. Dengan tangan kanannya pula ia  mengacungkan jempol. Lalu tangan kanannya mengacungkan dua jari, jari tengah dan jari telunjuk. Ia acungkan dua jempol tangannya. Lalu kembali ia acungkan dua jari telunjuk dan tengah. Selanjutnya kedua jari tengahnya menunjuk ke kaki..
Aku coba menterjemahkan maksudnya..
“Hmm...empat jempol... dua jempol tangan dan dua jempol kaki..”
Ia mengangguk kegirangan...sambil terus mengacungkan dua jempolnya sambil digoyang-goyang...
“Ha..ha..pagi-pagi dapat jempol kaki nih ceritanya...” ucapku sambil tertawa..
Iapun semakin kegirangan sampai terbatuk...tampaknya ia lupa kalau ETT masih terpasang di mulutnya...
Kubuka sedikit ujung plastik suction catheter baru..kupakai handscoon bersih di tangan kiri, dan handscoon steril di tangan kanan, kupertahankan tangan kananku agar tidak on. Dengan tangan kiri kupegang suction catheter yang masih didalam plastiknya, kuambil bagian pangkal suction cath dari ujung plastik yang sedikit terbuka tadi dengan tangan kanan. Kembali kupertahankan agar tidak on. Kuhidupkan mesin suction dengan tangan kiri, kuatur dengan tekanan negaif 180. Kupegang selang mesin suction lalu kusambungkan dengan suction cath. Ku tes dengan bilasan air steril. Suctioning OK.
Batuknya sedikit reda. Seperti biasa, ia menunjuk ke ETT..
“Suction..??” tanyaku..
Ia mengangguk...sambil tersenyum...cantik..

***

Ia : “Aku bersyukur masih memiliki anggota badanku yang lainnya. Aku yakin, cinta itu memiliki kebeningannya, sebening hati dengan ketulus-ikhlasannya. Dengan kondisiku sekarang ini, aku akan semakin tau cinta mana yang paling tepat untukku, cinta mana yang benar-benar mencintaiku. Bukan cinta yang kutemui sebelumnya, cinta yang meninggalkanku saat diri ini tak mampu memenuhi inginnya. Aku percaya, Alloh telah menyiapkan cinta terbaik untukku. Sebentar lagi Romadhon ya sus, semoga aku masih dipertemukan dengan Romadhon tahun ini dan tahun selanjutnya..”. Terakhir, dalam tulisan yang ia tunjukkan padaku...
Dua pekan bersamamu memberiku banyak pelajaran berharga.. Semoga sakit yang kau rasa menjadi penggugur dosamu hingga Alloh terima seluruh amal ibadahmu. Selamat jalan sobat...
Jika aku masih bisa menulis di bukumu, akan kutulis..
“Ssst.. nanti malam kita tarawih...”