Ini penerbangan pertamaku. Aku pernah
memimpikannya, meletakkannya
di daftar Dream Book-ku saat lulus SMA. Naik pesawat untuk pergi ke
suatu tempat. Mungkin ini hal yang biasa-biasa saja bagi sebagian orang,
tapi buatku yang terbiasa perjalanan darat, adalah sesuatu yang
spesial. Dan kali ini
Allah mengabulkannya. Setelah tarik ulur yang luar biasa membuatku
galau.
Antara berangkat dan tidak. Untungnya ada seorang teman yang sangat baik
hati
membantuku booking tiket pesawat.
Semoga Allah membalas semua kebaikannya. Aamiin.
Kali ini aku benar-benar merasa katrok. Booking
tiket pesawat saja ga bisa. Haha.. yap, this is me. The “Oneng” of me. Dimulai dari masuk ke bandara aja udah ga karuan onengnya.
Bingung mau kemana. Akhirnya aku tanya ke temanku tadi, dia menyarankanku untuk ke loket CityLink. Dan ternyata aku sudah tidak
perlu kesana lagi. “Langsung check in aja Mbak” kata petugas loket.
Aku masuk mengikuti alur berliku menuju pintu detektor.
Lolos. Lalu aku melihat tulisan Gate Counter Check In sesuai
bandara tujuan. Lupa di Gate Counter berapa, yang jelas, aku salah
lokasi. Pantas saja di Gate Counter itu sepi, ternyata semuanya jadi
satu di beberapa Gate Counter saja. Itupun aku
bingung. Waktu tanya ke petugas, disarankan untuk langsung ngecek di
komputer karena nomor penerbangan dan seatnya sudah lengkap. Akupun
mengecek di komputer. Nomor penerbangan dan seat sudah sama. Aku masih
bingung juga, untungnya ada petugas yang lagi-lagi menyelamatkanku. Ia
menyarankanku ikut ngantri di Gate Counter lagi, untuk cek bagasi. Aku
melihat ada tas seseorang yang berguling-guling saat pengecekan,
teringatlah aku dengan
laptop yang ada di koper. Langsung kuacak-acak koper untuk
mengeluarkannya.
Jangan ditanya bagaimana rempongnya ya. Hihi.. Karena kelihatan masih
bingung,
petugas meminta tiketku dan mengeceknya langsung. Sempat terdengar
bisikan orang yang tak jauh dariku, "Kok, dia diduluin sih. Kan ngantri
belakangan."
Sebelum
sempat berucap maaf, petugas tadi langsung buru-buru mengarahkanku
menuju tempat pengecekan selanjutnya. "Ke Boarding Pass ya, Mbak. Setelah itu langsung ke C3 ya, Mbak.", dan akupun mengiyakannya.
Berlanjut ke pengecekan selanjutnya. Aku tak tahu
kalau ternyata
masih dikenakan biaya lagi. Mulailah kerempongan selanjutnya. Uang yang
kusiapkan di tas ransel bagian luar masih kurang ternyata, lalu aku
mencari-cari dompetku yang
ada di bagian dalam tas. Hadeeh.. rempong tiada tara, tangan kanan
pegang laptop, tangan kiri pegang koper. lalu petugas menyuruhku minggir
agar aku tak menghambat yang lain. Fiiuuhh, ada-ada aja.
Selanjutnya
aku mencari gate C3. Aku berjalan menyusuri
koridor dengan langkah yang sedikit takut. Kalau sampai disini nyasar
dan masih bingung, entah berapa banyak lagi stok malu yang masih
tersimpan. Untungnya tulisan C1, C2 dan C3 nya gedhe-gedhe. Sampai di
C3, aku belok kiri dan langsung menuju kursi tunggu. Karena ingat
aku belum sholat, aku mencari mushola dan bermaksud menitipkan koperku.
Mas-mas
petugas menyarankanku menitipkan koperku ke Syahrini. What? Terkejut
banget.
Dia menunjukkanku pada seorang wanita bersanggul dan berjambul seperti
Syahrini,
haha.. dan memang benar wajahnya mirip Syahrini. Hanya saja suaranya
bukan
cetar membahana, tapi tegas menggelegar. Hampir sama ya.. Hehe..
Pokoknya sesuatu
banget deh.
SKSD sama HTR
Setelah sholat di mushola mungil, lalu kembali ke ruang
tunggu. Dari kejauhan aku melihat sosok yang sepertinya tak asing. Antara
percaya dan tak percaya. Aku dekati dengan menggadaikan maluku, barangkali itu orang
yang salah. Mengumpulkan segala energi keberanian hanya untuk menyapa,
“Bunda
Helvy bukan?”, aku sok-sok akrab panggil-panggil 'Bunda'.
“Iya.” Beliau tersenyum, hangat.
Aku langsung bersalaman dengannya, dan duduk di
kursi
sebelahnya. Helvy Tiana Rosa, aku tak akan bercerita betapa besar kiprah
beliau di dunia literasi, terlebih lagi untuk FLP. Yang kutahu saat
itu, teduh wajah dan tegas suaranya mengingatkanku pada seorang dosen
yang kurasa seperti ibuku sendiri. Bu Meidiana Dwi Diyanti. Hmm.. jadi
kangen
sama Bu Mei…
“Bunda mau ke acara Munas FLP juga?”, tanyaku grogi.
“Iya. Namanya siapa? Mau kesana juga?”
“Eh, iya, saya Selvi, dari FLP Jakarta.”
“Alhamdulillah ya jadi ada temennya.”
“Iya, Bun. Awalnya saya kira saya bakalan sendirian sampai
sana.”
Dan percakapan itupun
mencair. Disela-sela beliau sibuk
dengan tab-nya. Rupanya beliau sedang memantau Munas dari tweeter.
Beliau sempat bercerita bahwa dirinya sedang sangat lelah dan harus
menggeser beberapa agenda untuk menghadiri Munas 3 FLP sampai usai.
Subhanallah ya, orang sesibuk itu yang masih sangat peduli, sebuah
dedikasi yang sangat patut diapresiasi dan diteladani. Mendengar kata
"lelah" yang senada dengan raut muka beliau saat itu, aku jadi
mengurungkan niatku untuk berfoto dengan beliau. Ga tau kenapa jadi grogi banget. Padahal biasanya 'banci kamera' nya ga ketulungan.
Kami di pesawat yang sama. Di seat yang berdekatan. Beliau
di seat 6A dan aku di seat 7B. Aku sempat duduk di sebelah
beliau untuk beberapa saat. Berbicara beberapa hal. Berharap orang disebelah beliau mau bertukar seat denganku. Tapi rupanya dua seat di
sebelah beliau adalah pasangan pria dan wanita. Tanpa aku perlu bertanya, pasti
mereka berdua tak akan mau.
“Nanti ketemu lagi ya.” Kata bunda menggiringku pindah
kembali ke seatku.
Duduk diapit Bule Eropa
Aku duduk di seat 7B.
Di tengah-tengah dua bule. Yang kiri dekat jendela bule Portugal. Dan yang
kanan bule Italia. We-O-We. Bule Eropa!! Bule yang tempat asalnya merupakan tempat yang lama kuimpikan.
Hatiku langsung bergetar. Semoga next flight-ku adalah Eropa. Aamiin. Jadi teringat salah satu pesan ibuku sebelum
berangkat,
“Siapa tahu ketemu jodoh disana.” Haha, menghayal lagi. Kalau saja...
but, bule... oh tidak tidak tidak, ya ya ya, bisa jadi bisa jadi. Kuis eat bulaga mode:
on!. TIDAK!!! kecuali dia muslim. Eh..
Karena ini
penerbangan pertamaku, aku ga mau rugi dong. Sebelum berangkat, aku berazam tiga hal (halah, bahasanya..),
yang pertama, aku harus duduk di deket jendela. Kedua, meskipun datang
hanya sebagai penggembira, harus ada banyak ilmu yang kudapat disana.
Ketiga, seperti kata ibuku, disana aku harus bahagia. Dan untuk
memperjuangkan
azzam pertamaku itu, di kedua kalinya aku memberanikan diri.
“Excuse me, Sir. May I change my seat with you?”, gaya-gayaan pake bahasa inggris pas-pasan.
“Oh, ya.. ya.. I know you couldn’t comfort sit between two men.
Ok, we change.” Si bule Portugal ramah banget. Keren deh pokoknya. Cakep pula, kayak bapakku. Hihi.
Akhirnya kami bertukar posisi. Berlanjut pada sedikit ngobrol menanyakan asal negara dan beberapa basa-basi lainnya. Lumayan, latihan conversation dikit. Hehe.. sebenernya bukan
karena ga nyaman diapit dua orang laki-laki asing, tapi karena
ingin liat awan dari jendela pesawat aje. Hee.. lagian sebenernya keren juga
kan, naik pesawat diapit dua orang bule eropa, berasa princess dengan dua
bodyguard-nya dah. Hahay...
Pesawat mulai meninggi, perlahan. Dan awan-awan mulai menari
dan memamerkan kegemulaiannya. Entah berada di ketinggian berapa ribu kilometer
dari permukaan tanah. Yang jelas, kini aku terbang. Di bawah, samping kanan,
kiri dan atas, semuanya awan. Subhanallah.. terimakasih atas nikmat hari ini.
Aku Percaya
Sekarang
aku percaya bahwa awan memang seperti gumpalan
kapas. Ia menari mengambang di udara dengan sangat anggun. Dan
dibawahnya, bangunan-bangunan nampak kecil seperti rumah-rumah kurcaci
di dongeng putri salju. Aku kini
juga percaya, bahwa awan juga seperti salju. Putih nan lembutnya
berbalut biru
yang tak henti menawarkan sendu. Jujur, aku takut naik pesawat sendiri,
apalagi ini pengalaman pertamaku. Hanya
do’a yang teriring sepanjang langkahku. Mengemis keselamatan padaMu. Dan
memang
Engkau tak pernah bohong, sejengkal aku mendekatiMu, sepenggalah Engkau
mendekatiku. Ya Allah, aku ingin menangis. Betapa kecilnya
aku, pengharapan itu Kau kabulkan hanya dengan permohonan do’a
ketakutanku. Ketakutan yang berbuah manis, Kau hadirkan beliau di
kesendirianku. Terima kasih Bunda Helvy yang sudah membuatku merasa
tenang.
Aku tak pernah menyangka akan ada skenario ini dalam hidupku. Hidup ini memang kuakui penuh dengan kejutan. Ini salah satunya. Aku hanya memimpikan terbang dengan pesawat. Sekali lagi, mungkin ini hanya mimpi remeh temeh bagi sebagian orang. Tapi hari ini Allah menjawabnya sekaligus memberikan bonus, satu pesawat dengan penulis beken Indonesia yang sekaligus perjumpaan pertamaku dengan beliau. Tiba-tiba rasa haru itu muncul. Jika tidak malu, mungkin luapannya sudah berbentuk tetesan air dari mataku. Subhanallah.. dan Alhamdulillah.. hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati.
Aku tak pernah menyangka akan ada skenario ini dalam hidupku. Hidup ini memang kuakui penuh dengan kejutan. Ini salah satunya. Aku hanya memimpikan terbang dengan pesawat. Sekali lagi, mungkin ini hanya mimpi remeh temeh bagi sebagian orang. Tapi hari ini Allah menjawabnya sekaligus memberikan bonus, satu pesawat dengan penulis beken Indonesia yang sekaligus perjumpaan pertamaku dengan beliau. Tiba-tiba rasa haru itu muncul. Jika tidak malu, mungkin luapannya sudah berbentuk tetesan air dari mataku. Subhanallah.. dan Alhamdulillah.. hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati.
Senja semakin memendarkan rona jingganya, berbalut putih yang samar. Aku sudah mulai
membayangkan sebuah sunset yang pernah di janjikan oleh seseorang, di pantai Kuta. Lagu
Lembayung Bali milik Sandra Dewi tiba-tiba mampir di ingatanku. Masih memerhatikan
luar jendela, nampak alur air semacam sungai di bawah sana. Pesawatku tiba-tiba
bergetar, seperti naik bajaj yang lagi ngelewatin polisi tidur di jalan. Aku
kaget. Tapi aku ingat, kata orang, ketika pesawat menabrak awan, akan terasa
guncangannya. Hihi, emang “the katrok of me”. Kali ini awannya berbentuk beda.
Seperti batu-batu putih kecil yang berjejer memenuhi ruang syarat udara. Ada juga yang
seperti deretan barisan tentara putih yang sedang berperang, sempat berkhayal
mungkin itu deretan malaikat yang sedang berbaris mengantri giliran laporan
catatan amal manusia. Jadi teringat amalku yang secuil-secuil itu. Jadi malu.
Aku melewati awan yang bentuknya seperti pohon-pohon pinus
yang berjajar di atas gunung. Keindahan yang sayangnya tak mampu kuabadikan
dalam bentuk gambar. Yah, biarlah terekam hanya di memoriku. Agar keindahan itu
membuat orang cemburu. Hehe, maaf ya pembaca.Udah males ngeluarin HP buat take picture.
Perjalanan terbang pertamaku, melintasi dua waktu yang
berbeda. WIB dan WITa. Terimakasih ya Allah atas segala rahmat hari ini.
Terimakasih ibu yang menguatkan langkahku untuk tetap jadi pergi ke Bali.
“Berangkatlah, Vi. Siapa tahu disana kamu menemukan apa yang
kau cari. Pulau dewata yang selama ini hanya dalam mimpimu saja. Saatnya kamu
menikmati jerih payahmu sendiri. Ada kalanya kamu perlu memikirkan dirimu sendiri. Meskipun dianggap hal sepele, tapi sesuatu
yang bisa kamu raih dari upayamu sendiri akan terasa lebih berarti. Jangan
mikirin kerja terus. Sesekali lupain urusan di rumah, lupain sejenak Jakarta. Ada saatnya kamu harus bahagia.
Disana nanti kamu harus bahagia pokoknya. Karena bahagia dan suksesmu adalah
harapanku. Ibu hanya ingin melihat kamu bahagia.”
Telfon terakhir Ibu sebelum pesawat lepas landas. Rasa haru semakin mengaduk-aduk hatiku. Bunda Helvy menatap sekilas padaku.
"Dari Ibu. Sepertinya khawatir banget sama anak perempuan satu-satunya." ucapku pada beliau.
"Ya,
memang begitu, Dek. Seorang Ibu akan semakin khawatir dengan anak
gadisnya, apalagi kalau sudah seusiamu.", Bunda Helvy menimpali.
Ah, ibu. Kau selalu tahu apa yang ada dalam hatiku sebelum
lisan ini mengadu. Meski kadang aku masih sulit menerka apa maumu. Semoga perjalanan ini membuatku bertemu dengan banyak ilmu.
Aku sayang ibu. Aku janji, aku akan menghadiahkan bahagiaku padamu.
***
Di sebuah senja di dalam CityLink, penerbangan QG 852PK-GLH. 19.10 WITa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar