Entri Populer

Sabtu, 28 Januari 2012

VENTILATOR ISTRIKU

 
Alarm berbunyi dengan kerasnya, BP: 148/99 mmHg, Heart rate 134 x/mnt, RR: 26 x/mnt. Haemodinamiknya meningkat tiba-tiba. Ia gerak-gerakkan tangannya sambil berusaha mengatakan sesuatu. Genggaman tangannya tak mau ia lepaskan dari tanganku, aku tak paham apa yang ia inginkan. SaO2 98 % dan EKG sinus takikardi. Kesadaran Compos Mentis (sadar penuh), akralnyapun juga hangat, bukan gelisah fikirku. Kucoba menawarkan sesuatu, “Ibu mau dipanggilkan suami?”. Ia mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian sang suami masuk setelah kupanggil ia dari ruang tunggu.

“Assalamu’alaykum dek... sudah sholat??” lembut ucapnya selembut ia mengusap kening istrinya. Anggukan lemah dan kedipan mata yang hangat sang istri mengisyaratkan jawaban “sudah” yang dibalas dengan senyuman mesra sang suami sambil mengusap peluh di wajah sang istri.
Tangan sang istri terus menggenggam erat tangan sang suami. Tatapan matanya tertuju penuh ke mata suami seolah ada kunci yang tak bisa dilepaskan. Ia terus berusaha mengatakan sesuatu meski mulutnya tak pernah bisa mengeluarkan suara, hanya gerak mulut yang sulit dimengerti.
“sabar ya dek, kita ikhtiar sama-sama.” Kata sang suami kepada istrinya. “aby terus ada di sini, sayang mau apa?”
Sang istri semakin keras berusaha mengatakan sesuatu meski tetap saja tak ada suara yang keluar. Sambil terus tersenyum sang suami terus saja menatap sang istri mencoba menterjemahkan maksud sang istri.
Aku menatap dari kejauhan, heart rate (detak jantung) nya semakin naik diikuti respiratory rate (pernapasan) nya. Nampaknya sang istri semakin marah karena sang suami belum juga memahami maksudnya. Aku dekati mereka berdua dengan membawa papan kardeks, selembar kertas dan bolpoint.
“Ibu, ada apa, dituliskan saja bisa... mari saya bantu” kataku. Kupegangi papannya dan sang istri mulai menulis dengan tangannya yang lemah. Tulisan yang tidak jelas, namun masih bisa dibaca.
“Mau Pulang ke rumah”.
Lalu sang suami menatap kearahku seolah bertanya “bagaimana?”
“Ibu... ibu boleh pulang, sangat boleh, tapi pernapasan ibu harus kuat dulu. Ibu masih perlu bantuan pernapasan dengan alat, coba ibu rasakan, napasnya terasa berat tidak?” ucapku pada sang istri mencoba memahamkan. Sang istri mengangguk.
“sayang... istri sholihahku, kita pulang kalau napasnya sudah membaik ya..sekarang tenang dulu...banyak do’a...kita ikhtiar sama-sama ya...” Ucap sang suami lembut memancarkan aura kasih sayang yang menggetarkan hati.
“Propolisnya sudah diberikan belum suster.” Tanya sang suami padaku.
“Ini sudah saya siapkan, mau saya berikan.” Jawabku.
“Biar saya saja suster.” Minta sang suami. Dengan pemantauanku, sang suami memberikan propolis sublingual (dibawah lidah) pada sang istri. “Pahit ya, maaf ya sayang, biar membantu mempercepat kesembuhan ya.” Kembali ia usap peluh sang istri sebelum ia pamit untuk keluar. Sang istripun mulai kembali tenang.
Kulihat monitor, haemodinamiknya mulai normal kembali, BP: 118/77 mmHg, RR: 19 x/mnt, kecuali heart rate nya yang masih sedikit takikardi 112 x/mnt, sebagai efek karena ia mendapatkan support dobutamin 5 microgram/kgBB/menit.

Konektor ventilator canule masih terpasang di tracheostomy. Sebelumnya ia terpasang ETT selama 2 minggu. Dan setelah itu ia harus dipasang tracheostomy karena intubasi endotracheal tidak bagus untuk jangka waktu lebih dari 2 minggu. Pressure Support (PS) mode masih dipertahankan dengan FiO2 40% dan pressure +5 terus mensupport pernapasannya yang belum terlalu membaik di hari perawatan ke 28 di ICU. Proses weaning (sapih) ventilator begitu sulit dilakukan karena tidal volume (TV) yang tidak pernah mencapai 400 cc dengan berat badannya 60 kg dengan target TV 8 cc/kgBB. IV line (infus) lima jalur masih terpasang melalui akses CVC (central vein catheter/ kateter vena sentral) di vena subclavia. Salah satu vena sentral yang terletak di bawah tulang clavikula, dekat tulang rusuk pertama.

***

Sebuah adegan yang begitu romantis di tengah kesibukan merawat pasien. Ada sebuah perasaan haru sekaligus kagum yang kurasakan waktu itu. (Hmm...kalau boleh jujur, sedikit iri juga =) ). Sang suami yang penuh kelembutan dan kesabaran mendampingi sang istri yang terbaring tak berdaya dengan ventilator yang terpasang. 

***

Banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dalam perawatan pasien, bio-psiko-sosio-kultural-spiritual adalah bagian integral yang saling mendukung, bahkan sampai aspek ekonomipun perlu menjadi pertimbangan yang tidak jarang menimbulkan problem dilematik. Pelibatan keluarga menjadi salah satu cara dalam implementasi asuhan keperawatan. Support secara biofisik dengan maintenance terapi medik dan alat-alat canggih sekalipun tak selalu mampu mengalahkan sebuah aspek yang abstrak namun turut memberikan pengaruh dalam proses penyembuhan. Aspek tersebut adalah aspek psikologis, seperti yang dilakukan sang suami dalam real adegan diatas contohnya. 

Sebuah pelajaran baru, mungkin ini adalah yang disebut sebagai “jangan mengobati monitor, obati sumbernya, cari penyebabnya.”. yang artinya, ketika mendengar alarm monitor berbunyi sebagai tanda ada ketidaknormalan nilai, maka jangan langsung mengambil tindakan kolaboratif medikasi untuk menormalkan nilai yang tertera di monitor, tetapi terlebih dahulu lihat klinis pasiennya. Teliti penyebabnya, dan intervensilah dengan tepat. Kejelian dan ketelitian perawat diuji disini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar