Jkrta, 31 Juli 2011, 01.55 WIB
"Kebahagiaan terbesar seorang wanita tidak hanya berhenti ketika ia dinikahi oleh orang yang mencintainya, kebahagiaan itu akan semakin berlanjut ketika ia mampu melahirkan keturunan dari orang yg menikahinya. Namun, rasanya kini hal itu mustahil bagiku. Bagaimana aku bisa mendapatkannya jika rahimku telah terangkat. Ah.. jauh sebelum hal itupun, masih adakah seorang laki-laki yang mau menikah denganku pada kondisiku yang tak utuh lagi...??"
aku hanya terdiam membaca tulisan yang ia tunjukkan padaku...
"begitu kan sus..."
aku masih terdiam...
tubuhku terasa terguncang hebat, tanganku gemetar, dadaku terasa sesak menahan air mata yang tak boleh tertumpah di hadapannya... ku coba mengalihkan perhatianku sambil kubetulkan posisi canul ventilator, kucoba menenangkan diriku sendiri...sementara ia masih menuliskan sesuatu di bukunya...
ia tunjukkan lagi tulisannya padaku...
"maaf ya sus... =) "
aku sudah mampu menenangkan diriku...kuberikan senyum, kumenatapnya sambil berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk kusampaikan padanya... namun mulut ini masih saja tak sanggup mengeluarkan kata-kata... (andai saja ada mata kuliah konseling di jaman kuliahku dulu..)
aku tulis dibukunya ...dan percakapan kamipun berlanjut di atas kertas terbendel itu..
aku : "Bukankah setiap diri memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing??"
ia : "ya."
aku : "tau tentang aisyah..istri Rosululloh yang tersohor karena kecerdasannya.."
ia : "ya, kenapa sus.."
aku : "Aisyah, ia tak hanya cantik, tapi juga cerdas. Rosululloh sangat mencintainya tak beda dengan cinta beliau terhadap Khodijah, meskipun tak satupun keturunan yang Rosululloh dapatkan dari Aisyah. Padahal Aisyah adalah seorang yang sehat, sangat sehat."
ia : "tapi aku bukan Aisyah sus, aku hanya wanita biasa, tak berani aku menyamakan diriku dengan Aisyah.."
aku : "Lalu, apakah ada seorang laki-laki yang menyamai Rosululloh..??"
ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya...
kamipun tersenyum bersama...
kulanjutkan menulis di bukunya..
aku : “siapa sih yang tidak akan tertarik pada seorang wanita cantik aktivis lulusan ITB dengan predikat cumlaude plus segudang prestasi.. siapa sih yang tidak tertarik pada seorang arsitek cerdas nan anggun yang ketika baru lulus kuliah langsung mendapatkan tawaran proyek dari tiga perusahaan besar dalam waktu yang bersamaan..??”
ia tersenyum lagi...
cantik.
ia : “iya..”
kami terdiam sejenak...
aku : “so..siapa yang sekarang akan semakin melejitkan potensinya untuk meraih cinta sejatinya..??”
ia : “aku..”
aku : "siapa yang sekarang akan semakin semangat melawan mesin ventilator dengan berusaha melatih pernapasannya?"ia : "aku.."
dua jempol kuacungkan padanya..ia membalasku dengan dua jempolnya..seperti sebuah kode yang tepat..
kami tersenyum bersama...
***
Setelah operan sift malam...sambil berpamitan untuk pulang..
Kuberikan tiga jempol untuknya, dua jempol tanganku, dan satu lagi jempol temanku..
Jempol tangan kanannya dilipat, empat jari lainnya terbuka. Dengan tangan kanannya pula ia mengacungkan jempol. Lalu tangan kanannya mengacungkan dua jari, jari tengah dan jari telunjuk. Ia acungkan dua jempol tangannya. Lalu kembali ia acungkan dua jari telunjuk dan tengah. Selanjutnya kedua jari tengahnya menunjuk ke kaki..
Aku coba menterjemahkan maksudnya..
“Hmm...empat jempol... dua jempol tangan dan dua jempol kaki..”
Ia mengangguk kegirangan...sambil terus mengacungkan dua jempolnya sambil digoyang-goyang...
“Ha..ha..pagi-pagi dapat jempol kaki nih ceritanya...” ucapku sambil tertawa..
Iapun semakin kegirangan sampai terbatuk...tampaknya ia lupa kalau ETT masih terpasang di mulutnya...
Kubuka sedikit ujung plastik suction catheter baru..kupakai handscoon bersih di tangan kiri, dan handscoon steril di tangan kanan, kupertahankan tangan kananku agar tidak on. Dengan tangan kiri kupegang suction catheter yang masih didalam plastiknya, kuambil bagian pangkal suction cath dari ujung plastik yang sedikit terbuka tadi dengan tangan kanan. Kembali kupertahankan agar tidak on. Kuhidupkan mesin suction dengan tangan kiri, kuatur dengan tekanan negaif 180. Kupegang selang mesin suction lalu kusambungkan dengan suction cath. Ku tes dengan bilasan air steril. Suctioning OK.
Batuknya sedikit reda. Seperti biasa, ia menunjuk ke ETT..
“Suction..??” tanyaku..
Ia mengangguk...sambil tersenyum...cantik..
***
Ia : “Aku bersyukur masih memiliki anggota badanku yang lainnya. Aku yakin, cinta itu memiliki kebeningannya, sebening hati dengan ketulus-ikhlasannya. Dengan kondisiku sekarang ini, aku akan semakin tau cinta mana yang paling tepat untukku, cinta mana yang benar-benar mencintaiku. Bukan cinta yang kutemui sebelumnya, cinta yang meninggalkanku saat diri ini tak mampu memenuhi inginnya. Aku percaya, Alloh telah menyiapkan cinta terbaik untukku. Sebentar lagi Romadhon ya sus, semoga aku masih dipertemukan dengan Romadhon tahun ini dan tahun selanjutnya..”. Terakhir, dalam tulisan yang ia tunjukkan padaku...
Dua pekan bersamamu memberiku banyak pelajaran berharga.. Semoga sakit yang kau rasa menjadi penggugur dosamu hingga Alloh terima seluruh amal ibadahmu. Selamat jalan sobat...
Jika aku masih bisa menulis di bukumu, akan kutulis..
“Ssst.. nanti malam kita tarawih...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar